Language:
Air dan Komunitas
Kamis, 27 Oktober 2011 17:50
Pengelolaan Air Komunitas di Dusun Sialang

Dusun Pulau Sialang secara administrasi termasuk ke dalam wilayah Desa Rumbio, Kecamatan Kampar, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, dengan ketinggian 38 m dpl, curah hujan 300 mm/Ha dan suhu rata-rata 260C, dengan batas wilayah :
1.    Sebelah Utara berbatasan dengan Pulau Payung
2.    Sebelah Selatan berbatasan dengan Gunung Sahilan
3.    Sebelah Barat berbatasan dengan Penyasauan
4.    Sebelah Timur berbatasan dengan Padang Mutung

Desa Rumbio berjarak kurang lebih 4,5 km dengan pusat kecamatan, 14,5 km dengan ibukota kabupaten dan 45,5 km dari ibukota provinsi. Desa Rumbio memiliki luas wilayah 27.000 Ha. Yang terdiri dari: 3,825 Ha tanah kas desa, pengalokasian: sawah dan ladang 375 Ha, 35 Ha pemukiman penduduk dan  areal pemakaman seluas 2 Ha, pengunaan untuk perkantoran 0,125 Ha, pusat desa 0,8 Ha, irigasi sederhana 305 Ha, irigasi tadah hujan 70 Ha,  pekarangan 35 Ha, tegalan 125 Ha, perkebunan swasta 711 Ha, perkebunan rakyat 973 Ha. Tanah yang belum dikelola yang terdiri dari 598 Ha semak belukar dan 200 Ha hutan lindung. Jumlah penduduk Desa Rumbio 4.095 orang yang terdiri dari 923 orang kepala keluarga. Mata pencarian mayoritas penduduknya adalah petani.Proses Perencanaan Model Pengelolaan Sumberdaya Air Dusun Pulau Sialang

Pada umumnya masyarakat yang tinggal daerah aliran Sungai Kampar memanfaatkan air Sungai Kampar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka mulai dari mencari nafkah, MCK hingga air minum, tanpa terkecuali masyarakat di Desa Rumbio. Akan tetapi, beberapa tahun belakangan hingga sekarang ini hanya sebagian kecil masyarakat saja yang masih memanfaatkan air sungai sebagai kebutuhan sehari-hari khususnya untuk air minum. Hal ini dikarenakan air Sungai Kampar yang sudah mulai tercemar. Begitu juga dengan sungai-sungai kecil yang terdapat di Desa Rumbio seperti Sungai Tanduk dan Sungai Tibun. Air sungai  yang dulunya bisa dimanfaatkan untuk air minum, sekarang tidak lagi, karena sungai-sungai kecil tersebut sudah dimanfaatkan untuk mengairi sawah-sawah dan kolam ikan.

Kebutuhan akan air bersih mendorong masyarakat, khususnya masyarakat Desa Rumbio untuk mencari alternatif sumberdaya air bersih lain dengan membuat sumur galian. Namun air yang diperoleh dari sumur berwarna kuning seperti air karat sehingga tidak memungkinkan untuk dikonsumsi dan hampir 90% kondisi air sumur galian di Desa Rumbio seperti ini.

Di desa Rumbio tepatnya di Dusun Pulau Sialang terdapat sumber air yang mata airnya keluar dari dalam tanah di tepi bukit yang mereka sebut Mata Air Pancuran Tujuh. Mata air inilah yang dimanfaatkan oleh masyarakat Dusun Pulau Sialang dan sekitarnya sebagai sarana air bersih atau air minum. Airnya yang jernih dan tidak berbau membuat masyarakat tidak ragu untuk mengkonsumsinya. Bahkan sebagian besar masyarakat yang mengambil air dari Mata Air Pancuran Tujuh meminum air tersebut tanpa dimasak terlebih dahulu. Menurut mereka air dari Mata Air Pancuran Tujuh ini bersih karena airnya keluar langsung dari dalam tanah, belum pernah kering sekalipun di musim kemarau dan belum pernah ada yang mengeluh sakit karena mengkonsumsi air tersebut. Dikarenakan jarak mata air dengan perkampungan yang relatif jauh,  masyarakat mengambil air langsung ke sumbernya dengan menggunakan jerigen melalui jalan setapak yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Pada tahun 2000, H. Almizan salah seorang tokoh masyarakat Dusun Pulau Sialang mengengajak masyarakat  untuk mengalirkan air dari Mata Air Pancuran Tujuh ke perkampungan mereka. Dengan demikian masyarakat tidak perlu bersusah payah lagi mengambil air. Rencana mengalirkan air dari sumber Mata Air Pancuran Tujuh ke pemukiman warga Dusun Pulau Sialang timbul pada saat pertemuan di Gedung Bokasi Simbat Jaya setelah acara pengajian. Pada pertemuan tersebut hadir 8 orang tokoh masyarakat, namun mereka tidak memiliki dana untuk merealisasikannya. Keputusan sementara yang diambil adalah bergotong royong memperbaiki jalan menuju sumber mata air.

Selanjutnya, pada tahun 2004-2005 para tokoh masyarakat mengajukan permohonan bantuan dana ke Bupati Kampar. Akan tetapi permohonan tersebut belum mendapat tanggapan yang memuaskan. Akhir 2006 mereka mencoba mengajukan kembali permohanan tersebut ke tingkat provinsi dan mereka berhasil mendapatkan bantuan berupa dana. Dana yang diperoleh tersebut digunakan untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan dalam pembangunan saluran air dari sumber air ke perkampungan warga.

Model Pengelolaan Sumberdaya Air

Pembangunan berupa pembuatan 1 buah bak berukuran 4x3x2 m yang berfungsi sebagai bak penampung induk dan 3 buah bak penampung berukuran 3x2x1,75. Dalam pengerjaan pembangunan saluran air bersih tersebut dikerjakan secara bergotong royong oleh masyarakat RW 09 dan RW 12 Dusun Pulau Sialang. Sedangkan pemasangan pipa mereka dibantu  oleh tenaga ahli dari PDAM yang mereka bayar, dikarenakan keterbatasan  peralatan dan kemampuan yang mereka miliki. Karena minimnya dana, ditambah lagi mereka harus menyisihkan dana untuk membayar tenaga ahli dari PDAM tersebut, sehingga mereka terpaksa harus menggunakan pipa yang harganya murah dengan kualitas rendah.

Pipa dibenamkan ke lubang sumber air, yang kemudian dialirkan ke ke bak penampungan induk yang berjarak ± 3 m dari sumber air. Air yang terkumpul di bak induk tersebut dialirkan melalui pipa sepanjang ± 800 m ke bak anak  pertama yang berada di pemukiman warga RW 12. Kemudian dari bak pertama, air dialirkan lagi ke bak kedua dan ketiga yang berada di wilayah RW 09. Air yang dialirkan ke bak yang telah disediakan inilah yang kemudian bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

Setelah saluran air bersih tersebut selesai maka dibentuklah panitia pengelola, yaitu: Zaidalis (RW 12) sebagai ketua dan Mahmudin (RW 09) sebagai ketua I, sekretaris Saidina Umar, H. Almizan sebagai bendahara dan  anggota  H. M. Rasyad. Pada tahap awal, tahun 2007 disepakati bahwa masyarakat Dusun Pulau Sialang yang mengambil air dikenakan iuran 500 Rupiah per KK per bulannya, sedangkan warga dari desa lain yang ikut mengambil air dikenakan iuran 500 Rupiah per tiap jerigennya (40 ltr) dan dana yang terkumpul akan digunakan untuk perawatan sarana dan prasarana air bersih tersebut. Namun kesepakatan tersebut tidak berjalan dengan baik, karena semenjak ketetapan tersebut disepakati hingga sekarang ini, iuran yang 500 Rupiah per jerigen itu tetap dipungut, akan tetapi tidak jelas siapa yang memungutnya dan kemana dananya, sedangkan pemungutan iuran 500 rupiah per KK hanya berlangsung satu kali saja. Masyarakat tidak percaya dengan panitia karena beberapa kali saluran rusak dan tidak diperbaiki. Sedangkan panitia merasa dana yang terkumpul tidak cukup untuk memperbaiki saluran yang rusak sehingga tidak seluruh saluran dapat diperbaiki.

Keberlanjutan Teknis Pola Pengelolaan Sumberdaya Air

Secara teknis keberlanjutan pengelolaan  Sumberdaya Air  bisa berjalan dengan baik, tapi karena manajemen pengelolaan tidak dikelola secara maksimal maka banyak saluran yang sudah mulai rusak dan tidak dilakukan perbaikan-perbaikan. Masyarakat tidak percaya pada pengelola sehingga masyarakat tidak mau membayar uang iuran, sedangkan pemasukan yang diharapkan hanya dari masyarakat luar desa yang juga mengambil air di bak penampungan, hal itupun tidak ada kejelasan dana yang terkumpul. Perlu perombakan manajeman supaya pengelolaan lebih baik. Pemerintah desa diharapkan keterlibatannya untuk pengelolaan sumberdaya air, juga membangun komunikasi yang baik antara pengelola, konsumen atau masyarakat serta pemerintah.

Keberlanjutan Lingkungan Sumberdaya Air
Lingkungan sekitar sumberdaya air di desa Rumbio pada saat ini masih terjaga karena hutan disekitar kawasan sumberdaya air merupakan hutan adat yang dilindungi.  Tapi banyak ancaman terhadap keberadaan hutan adat tersebut, seperti konversi menjadi perkebunan sawit. Perlu dilakukan penyadaran masyarakat akan pentingnya keberadaan hutan adat untuk melindungi sumberdaya air yang ada di desa mereka.


« Back to archive Air dan Komunitas | | |
Air dan Komunitas Linked
List Comment
Comment
Name :
Email :
Website :
Title Comment :
Comment :
Code :
Letter code above the input fields bellow
 
Minggu, 20 Maret 2011 13:51
Kemelut Sumberdaya Air; Menggugat Privatisasi Air di Indonesia

Kitab  ini adalah semacam lonceng bangun pagi (wake up call) untuk  mengingatkan...


Minggu, 20 Maret 2011 12:56
Air Sebagai Layanan Publik

Air Sebagai Layanan Publik mencoba mendeskripsikan kembali sejarah penyediaan layanan air...



© 2011 copyright Kruha.org
Best viewed Mozilla, Opera, Google Chrome
All Rights Reserved. Powered by oneTechno