Language:
Air dan Komunitas
Kamis, 27 Oktober 2011 18:10
Pemanfaatan Air di Desa Sialang Jaya, Rokan Hulu

Desa Sialang Jaya adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Rambah yang berada di Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau yang bejarak 2,5 KM dari kota Pasir Pangaraian ibukota dari Kabupaten Rokan Hulu. Desa Sialang Jaya merupakan desa pemekaran dari Desa Rambah Tengah Barat pada tahun 2002 dengan luas wilayah administratif lebih kurang 36.000 ha. Ditinjau dari administrasi desa Sialang Jaya sebelah Utara berbatas dengan desa Rambah Tegah Barat, sebelah Selatan berbatasan dengan Rumbe (Sungai Belut) langsung dengan Sumatra Barat, sebelah Barat berbatas dengan desa Suka Maju dan sebelah Timur berbatas dengan desa Rambah Tengah Hulu. Sumber dari Kepala Desa jumlah penduduk yang ada di wilayah kerjanya berkisar 250 KK. Mata pencaharian masyarakat di desa Sialang Jaya mayoritas adalah petani kelapa sawit, petani karet, wirasasta dan sebagian lagi sebagai PNS.Selama ini masyarakat di desa tidak mendapat permasalahan serius akan kebutuhan air bersih dengan pola sumur. Sedikit permasalahan muncul jika musim kemarau, karena debit air berkurang, dan itu berada pada daerah yang agak tinggi, dan itu tidak banyak rumah tangga disana.Desa Sialang Jaya mempunyai sumberdaya alam yang cukup baik, dengan keberadaan hutan yang masih alami, sumber mata air yang masih bagus. Sumber mata air tersebut terdapat di daerah perbukitan yang jaraknya sekitar 1 km. Pada saat ini sumber mata air tersebut dimanfaatkan oleh Pak Maskot, salah seorang masyarakat desa tersebut.

Air alami tersebut merupakan sumber air untuk depot air yang juga dimiliki Pak Maskot yang berada Simpang Tangun kota Pasir Pengaraian, mereka menyebutnya Air Gunung Sibogas (AGS). Model yang dilakukan Maskot untuk mendapatkan sumber air dengan cara memasang selang dari sumber air ke tempat penampungan, yang berjarak kira-kira 1,5 km. Bangunan penampungan itu kira-kira berukuran 3x2 m, berbahan papan dan beratap tertutup dan berkunci, dengan 2 buah tandon didalamnya. Dilokasi penampungan tersebut, air mengalir tidak ada dibatasi, walaupun sudah penuh, karena kelebihan air mengalir ke bendungan Kaeti Samo, yaitu bendungan suplesi yang ada di desa itu. Di tepi bendungan itulah pondok penampungan air tersebut dibangun dan sekarang bendungan ini telah menjadi objek wisata di Rokan Hulu.

Selanjutnya dari lokasi penampungan, air di angkut menggunakan truck yang didalamnya ada tandon air. Dalam satu hari air yang diangkut dengan menggunakan galon 10.000 liter, jika cuaca bagus satu hingga 3 kali pengangkutan. Hingga kini debit air yang dari sumber tersebut masih normal, tidak terpengaruh oleh musim kemarau. Menurut Kepala Desa ditempat mereka masih ada sumber air alami yang mirip dengan yang dimanfaatkan oleh Maskot, yakni di daerah yang bernama Sei Bungo yang berjarak lebih kurang 6 km dari pusat desa. Pak Maskot memulai usahanya pada tahun 2005 dengan mengambil air di pebukitan tanpa membayar. Di pasar kabupaten air tersebut diolah menjadi air isi ulang dijual dengan harga 5.000 rupiah per galon ukuran 15 liter.

Menurut Pak Maskot keberadaan sumber air bergantung pada kondisi hutan yang ada disekitarnya. Meskipun kondisi hutan sekarang masih terbilang bagus, dia khawatir akan adanya ancaman dari pembukaan kebun sawit, satu batang bisa menyerap air 8 liter per hari. Untuk aktivitas penebangan itu hal nomor dua menurutnya karena sekarang sudah sangat menurun sejak marak penangkapan illegal loging. Ancaman sawit ini dicontohkan oleh istri Maskot dengan keadaan sekarang ini dalam 2 minggu tidak turun hujan, masyarakat kota pergi ke sungai, karena kondisi sumur kering.

Selain tempat penampungan Pak Maskot, di desa ini juga terdapat penampungan air oleh PDAM. Penampungan air PDAM ini merupakan unit untuk disalurkan kepada konsumen di kota Pasir Pangaraian. Adapun sumber air PDAM ini berasal dari Desa Rambah Tengah Hulu atau disebut juga dengan mata air Pawan yang terdapat di desa tersebut. Setelah diolah di pengolahan di Desa rambah Tengah Hulu air tersebut dialirkan ke Desa Sialang Jaya, karena desa Sialang Jaya terletak di dataran yang lebih tinggi, sehingga air lebih mudah dialirkan ke Kota Pasir Pangaraian.Masyarakat Desa Sialang Jaya tidak dapat akses untuk memperoleh air PDAM tersebut. Beberapa kali kepala desa mengusulkan supaya masyarakat desa juga bisa memanfaatkan air PDAM.

Keberlanjutan Teknis Pengelolaan Sumberdaya Air
Secara teknis keberlanjutan pengelolaan sumberdaya air yang dilakukan secara perorangan berjalan dengan baik, karena dikelola secara komersial. Ada keinginan dari kepala Desa Sialang Jaya ingin membuat pengelolaan sumberdaya air yang dikelola oleh desa.

Keberlanjutan Lingkungan Pengelolaan Sumberdaya Air
Secara lingkungan keberadaan sumberdaya air di desa Sialang Jaya bisa terjaga dengan baik karena hutan dikawasan sumber air masih terjaga. Cuma ada ancaman dari masyarakat desa sebelah yang melakukan konversi hutan menjadi lahan sawit, dikawatirkan akan mengganggu keberadaan sumberdaya air. Perlu dilakukan penyadaran masyarakat untuk menjaga keberadaan hutan didesa demi keberlanjutan sumberdaya air.


« Back to archive Air dan Komunitas | | |
Air dan Komunitas Linked
List Comment
Comment
Name :
Email :
Website :
Title Comment :
Comment :
Code :
Letter code above the input fields bellow
 
Minggu, 20 Maret 2011 13:51
Kemelut Sumberdaya Air; Menggugat Privatisasi Air di Indonesia

Kitab  ini adalah semacam lonceng bangun pagi (wake up call) untuk  mengingatkan...


Minggu, 20 Maret 2011 12:56
Air Sebagai Layanan Publik

Air Sebagai Layanan Publik mencoba mendeskripsikan kembali sejarah penyediaan layanan air...



© 2011 copyright Kruha.org
Best viewed Mozilla, Opera, Google Chrome
All Rights Reserved. Powered by oneTechno