Language:
Air Kemasan
Senin, 10 September 2012 13:02
Kejahatan Korporasi
Greenwashing a la Danone

Greenwashing a la Danone

Sumber: http://donhangga.com/greenwashing-a-la-danone/2007/09/01/

Greenwash adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan tindakan perusahaan, pemerintah atau organisasi lainnya yang mengiklankan praktik lingkungan yang baik tetapi bertindak sebaliknya dalam menjalankan kegiatan usaha. Istilah tersebut juga digunakan ketika jumlah sumberdaya perusahaan yang digunakan untuk beriklan lebih besar daripada yang digunakan untuk melakukan tindakan nyata. Hal tersebut dapat dilihat dari perusahaan yang mengubah kemasan atau merek agar terlihat lebih ramah lingkungan (social maupun alam). Greenwash biasanya dilakukan oleh perusahaan yang mengeksplorasi Sumber Daya Alam/penambangan. (wikipedia)

Baru-baru ini, Danone-AQUA yang diproduksi oleh PT. Aqua Golden Mississipi Tbk meluncurkan program 1L untuk 10L. Program "Satu untuk Sepuluh" adalah inisiatif sosial AQUA yang ditujukan terutama untuk membantu meningkatkan kesejahteraan anak-anak melalui pengadaan air bersih dan penyuluhan hidup sehat. Untuk setiap 1 liter botol AQUA ukuran 600 ml dan 1500 ml berlabel khusus yang terjual pada bulan Juli hingga September 2007, AQUA akan  menyediakan 10 liter air bersih kepada komunitas di daerah Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai tahap awal. Untuk menyukseskan program tersebut, AQUA membuat iklan di media dengan gencar dan merubah label pada kemasan 600mL dan 1,5L. Tidak ketinggalan, untuk lebih meyakinkan konsumen, jumlah kemasan khusus yang terjual akan diaudit oleh KAP Haryanto Sahari dan Rekan (PWC Indonesia).

Seperti yang diungkapkan di awal, greenwashing biasanya dilakukan oleh perusahaan pertambangan. Pertambangan adalah usaha pengambilan mineral berharga atau material geologi lainnya dari dalam bumi, biasanya (tapi tidak selalu) dari bentuk biji-bijian atau lapisan mineral. Material dari pertambangan diantaranya adalah bauksit, batu bara, tembaga, emas, perak, berlian, besi, timah, batu berharga, nikel, fosfat, uranium dan molybdenum.

Material yang tidak dapat dihasilkan dari proses agrikultural atau diciptakan secara artifisial dalam laboratorium atau pabrik, biasanya adalah hasil tambang. Pertambangan dalam arti yang lebih luas termasuk tambang minyak, gas alam dan bahkan tambang air.(wikipedia indonesia).

AQUA dalam hal ini melakukan penambangan air. Seperti kegiatan penambangan lainnya, penambangan air yang dilakukan AQUA sedikit banyak berdampak pada kemerosotan kualitas lingkungan. Baik secara langsung maupun tidak langsung. AQUA (sesuai pernyataan di www.aqua.com) menggunakan mata air alami yang keluar dengan sendirinya tanpa menggunakan pompa. Mata air semacam itu jumlahnya sedikit dan semakin berkurang di Indonesia.

Potensi kerusakan yang disebabkan oleh penambangan air untuk produksi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) sangat besar. Mulai dari kerusakan areal sekitar mata air, potensi kekeringan yang dialami petani sampai pencemaran yang disebabkan penggunaan botol PET (Polyethylene terephthalate).

Kerusakan areal mata air Babakan Pari (salah satu dari 10 areal tambang air AQUA) dapat dijadikan contoh. Pada awalnya air yang dieksploitasi oleh Aqua adalah air permukaan, yaitu air yang keluar secara langsung dari mata air tanpa dibor. Namun pada tahun 1994, Aqua mulai mengeksploitasi air bawah tanah dengan cara menggali jalur air dengan mesin bor bertekanan tinggi.

Sejak air di mata air Kubang disedot secara besar-besaran oleh Aqua, banyak perubahan yang dirasakan oleh warga sekitar. Yang paling terasa adalah menurunnya kualitas dan kuantitas sumber daya air di desa, dan ini berdampak buruk pada kehidupan warga desa itu sendiri. Penurunan daya dukung air ini  tampak dari mulai munculnya masalah-masalah terkait dengan pemanfaatan sumber daya air di tingkat komunitas sejak sumber mata air Kubang dikuasai oleh Aqua. Salah satu masalahnya adalah kurangnya ketersediaan air bersih untuk konsumsi rumah tangga sehari-hari termasuk air untuk minum, memasak, mencuci, mandi dan lain-lain. Masalah ini dapat dilihat dari keadaan-keadaan sumur-sumur milik warga yang menjadi sumber pemenuhan akan kebutuhan air > bersih sehari-hari. Sekarang, tinggi muka air sumur milik kebanyakan warga maksimal hanya tinggal sejengkal saja atau sekitar 15 cm. Bahkan beberapa sumur sudah menjadi kering samasekali. Padahal sebelum Aqua menguasai air di sana, tinggi muka air sumur biasanya mencapai 1-2 meter. Dulu, hanya dengan menggali sumur sedalam 8-10 meter saja, kebutuhan air bersih untuk sehari-hari sudah sangat terpenuhi. Sekarang, warga perlu menggali sampai lebih dari 15-17 meter untuk mendapatkan air bersih. Dulu, warga tidak memerlukan mesin pompa untuk menyedot air untuk keluar dari tanah, sekarang dalam sekali sedot menggunakan mesin pompa, air hanya mampu mencukupi 1 bak air saja dan setelah itu sumurnya langsung kering. Bahkan pada beberapa kampung, apabila dalam sebulan saja hujan tidak turun, sumur menjadi kering sama sekali. Padahal dulu, saat musim kemarau memasuki bulan ke-6 pun tidak membuat air sumur menjadi kering. (www.apokalips.org)

Proses produksi AMDK merupakan proses yang boros air. Hampir 30% air yang menjadi bahan baku AMDK menyusut (hilang) karena proses produksi. Dengan asumsi produksi AMDK pada 2007 adalah 14 miliar liter (www.e-bursa.com), maka bahan baku air yang terbuang dalam proses produksinya mencapai kurang lebih 7 miliar liter. Bayangkan jika air sebanyak itu digunakan irigasi, karena standar air irigasi tidak perlu sebagus standar AMDK.Dengan market share AQUA yang sebesar 40%, maka pemborosan air yang disebabkan AQUA merupakan proporsi yang sangat signifikan. (kompas)

Hal tersebut diperparah dengan potensi pencemaran kemasan PET. Volume penjualan Aqua didominasi oleh air yang dikemas dalam galon. Dari total volume air yang terjual, kemasan galon menguasai 50 persen pasar, sementara kemasan gelas dan botol 600 cc masing-masing sebesar 10 dan 12 persen, sisanya untuk ukuran lain-lain, seperti 1.500cc, 330cc, dan sebagainya (kompas). Bayangkan berapa banyak kemasan PET dalam bentuk botol dan gelas yang dibuang dan sulit terurai (wikipedia)

Hal tersebut diperparah kurangnya inisiatif AQUA untuk membantu melakukan proses daur ulang kemasan PET. Tidak terdapat sedikitpun informasi mengenai daur ulang kemasan dalam situs resminya. Daur ulang PET harus dilakukan secara hati-hati, harus dipanaskan hingga 1200 derajat Celsius agar tidak menyisakan dioksin.

Kesimpulan diserahkan kepada para pembaca, apakah "1L untuk 10L " nya AQUA tersebut merupakan usaha yang tulus atau hanya akal-akalan greenwashing a la Danone.


« Back to archive Air Kemasan | | |
Air Kemasan Linked
List Comment
Comment
Name :
Email :
Website :
Title Comment :
Comment :
Code :
Letter code above the input fields bellow
 
Minggu, 20 Maret 2011 13:51
Kemelut Sumberdaya Air; Menggugat Privatisasi Air di Indonesia

Kitab  ini adalah semacam lonceng bangun pagi (wake up call) untuk  mengingatkan...


Minggu, 20 Maret 2011 12:56
Air Sebagai Layanan Publik

Air Sebagai Layanan Publik mencoba mendeskripsikan kembali sejarah penyediaan layanan air...



© 2011 copyright Kruha.org
Best viewed Mozilla, Opera, Google Chrome
All Rights Reserved. Powered by oneTechno