Language:
virtual water
Minggu, 13 Maret 2011 15:42
Air Maya (Virtual Water)

Introduksi Fenomena Ekspor-Impor Air dan Kaitannya dengan Isu Pangan serta Perdagangan

Indonesia merupakan negara terkaya keempat didunia dilihat dari total sumberdaya air yang terbarui, setelah Brazil, Rusia dan Kanada. Indonesia juga merupakan negara agraris dengan jumlah petani pangan yang cukup besar persentasenya. Akan tetapi akibat buruknya manajemen sumberdaya air ditambah pengabaian hak atas air yang terus terjadi, Indonesia sedang berada dalam jebakan virtual water trade; gagasan yang menyatakan bahwa demi menghemat air, maka lebih baik bagi sebuah negara untuk mengekspor pangan, karena pertanian pangan dianggap sebagai sektor yang paling boros mengkonsumsi air.Virtual water (sebelumnya diperkenalkan oleh Bank Dunia sebagai embedded water) adalah sebuah istilah yang mengemuka sejak tahun 1990-an , ia menjadi isu utama dalam diskusi-diskusi abad ini dan segera menjadi dimensi baru dalam perdebatan dunia tentang pengelolaan sumberdaya air.

Asal muasal istilah “Virtual Water” dapat di lacak lewat perdebatan para ekonom Israel pada pertengahan tahun 1980-an, bagi mereka merupakan sesuatu yang tidak rasional (dalam perspektif ekonomi)  untuk tetap meng-ekspor air dari Israel yang mengalami kelangkaan air. Hal ini yang menjadi landasan argumentasi penolakan  mereka atas ekspor  produk pertanian (yang memerlukan air yang intensif dalam produksinya) dari negeri mereka yang relatif tandus dengan tingkat curah hujan rendah.  Pada tahun 1993 Profesor J.A Allan dari School of Oriental and African Studies (SOAS)- University of London kembali mengemukakan gagasan ‘virtual water’ sebagai sebuah model , melengkapi gagasan ‘embedded water’ yang lebih dahulu dipromosikan oleh Bank Dunia, gagasan yang menurut Allan, “tidak mencakup perhatian terhadap komunitas-komunitas pengelola air”.

Secara sederhana, air merupakan kebutuhan utama untuk produksi berbagai produk pangan seperti sereal, sayur-sayuran, daging dan produk-produk susu.  Jumlah air yang diperlukan dalam proses produksi bahan pangan tersebutlah yang disebut ‘Virtual Water’, disebut  ‘virtual’ karena air sudah tidak lagi terkandung dalam produk akhir. Misalnya, untuk produksi satu kilogram gandum, dibutuhkan 1.000 liter air. Daging, rata-rata membutuhkan 5 hingga 10 kali lebih banyak air.

Kandungan ‘air virtual’  dalam beberapa produk pangan

Produk

Kandungan air ‘virtual’ (m3/ton)

Gandum

1160

Beras

1400

Kedelai

2750

Daging Sapi

13500

Daging Babi

4600

Unggas

4100

Telur

2700

Susu

790

                                                              Sumber: Zimmer D.,and D.Renault 2003

Dalam kaitan antar pangan, air dan perdagangan; jika sebuah negara meng-ekspor produk yang memerlukan banyak air dalam proses produksinya (water-intensive product), maka diasumsikan bahwa negara tersebut juga mengekspor air dalam bentuk virtual.

Bagi negara importir pangan yang sedang menghadapi kelangkaan air (water scarcity), jumlah yang dikalkulasikan sebagai ‘virtual water’ dianggap mencerminkan jumlah air yang bisa dihemat (water saving) dan mengurangi tekanan pada sumberdaya air domestik. Sementara bagi negara exportir dengan cadangan sumberdaya air berlimpah, virtual water bisa dijadikan instrumen dalam peningkatan efesiensi penggunaan air global.

Namun realitas berbicara lain, lihat saja arus perdagangan pangan global terkait virtual water dalam kurun 1995 dan 1999, volume air yang terpakai rata-rata sekitar  695 gm (+3) per tahun, sekitar 13 % dari total penggunaan air dalam produksi pertanian skala global.

 

Top 10 virtual exporting and importing countries (1995 – 1999)

Eksportir

Importir

Country

Net Export Volume  (10m 3)

Country

Net Import Volume  (10m 3)

USA

758,3

Sri Lanka

428,5

Canada

272,5

Japan

297,4

Thailand

233,3

Netherlands

147,4

Argentina

226,3

Korea Republic

112,6

India

161,1

China

101,9

Australia

145,6

Indonesia

101,7

Vietnam

90,2

Spain

82,5

France

88,4

Egypt

80,2

Guatemala

71,7

Germany

67,9

Brazil

45

Italy

64,3

                                                        Sumber: A.Y Hoekstra and Hung, 2002

Dari tabel diatas dapat dilihat kecendrungan Indonesia sebagai salah satu dari 10 besar negara Importir air ‘virtual’ via import pangan. Bagi negara-negara yang menjadikan Perdagangan Air Virtual (virtual water trade) sebagai solusi  atas kelangkaan air perlu mempertimbangkan beberapa isu penting, khususnya dampak-dampak yang akan timbul sebagai konsekuensi bagi negara-negara importir.

Pembiayaan Import, Ketahanan dan Kedaulatan Pangan, Livelihood

Dalam laporan Global Water Outlook to 2025: Averting an Impending Crisis  yang dikeluarkan oleh The International Food Policy Research Institute (IFPRI), disebutkan bahwa dengan skenario business-as-usual, “ketergantungan Negara-negara berkembang terhadap  impor pangan akan meningkatkan secara dramatis, dari 107 juta ton pada tahun 1995 hingga 245 juta ton pada 2025. Peningkatan import produk sereal (beras, jagung, kedelai dll) dinegara berkembang sekitar 138 juta ton antara tahun 1995—2025 dianggap sama dengan penghematan 147 kilometer kubik air pada 2025, atau 8 persen dari total konsumsi dan 12 persen konsumsi air untuk irigasi dinegara-negara berkembang.

Akan tetapi, ancaman juga membayangi andaian diatas. “Penghematan air (dan tanah) dari peningkatan impor yang diproyeksikan oleh negara-negara berkembang hanya akan menguntungkan jika prosesnya (transformasi dari negara produsen menjadi konsumen) lahir sebagai output dari pertumbuhan ekonomi yang kuat, yang mampu menghasilkan pendapatan mata uang asing (foreign exchange) yang dibutuhkan untuk membayar impor pangan...”, jika pra kondisi tersebut tidak terpenuhi, maka akan timbullah dampak-dampak yang lebih serius,

Masalah-masalah  ketahanan pangan yang lebih serius biasanya timbul sebagai akibat dari lambatnya pembangunan sektor pertanian dan ekonomi – gagal menjawab kebutuhan pangan nasional yang ditentukan oleh besaran populasi dan pertumbuhan tingkat pendapatan. Dalam kondisi seperti ini, negara akan berada pada pilihan rumit bahkan tidak mungkin membiayai kebutuhan impor pangan secara terus menerus, menyebabkan merosotnya  kemampuan negara dalam menjembatani gap antara konsumsi pangan dan pertanian pangan sebagai kebutuhan dasar bagi sumber penghidupan. Situasi yang relatif mirip dengan yang sedang dialami Indonesia, dimana mayoritas warganya hidup dari pertanian pangan skala kecil dan disaat bersamaan Indonesia juga merupakan salah satu dari 10 besar negara peng-impor air ‘virtual’ dalam bentuk pangan, padahal Indonesia memiliki cadangan sumberair yang surplus.

Sebagai sebuah pilihan kebijakan ‘virtual water’ akan berdampak langsung kepada kehidupan masyarakat lokal. Ketika suatu negara memutuskan melakukan impor air virtual untuk mengurangi problem kelangkaan air, pertanian akan langsung terkena dampak dengan perubahan pola dan jenis tanaman, juga berpotensi menyingkirkan para keluarga petani dari sumber penghidupan utama mereka. Dengan dikeluarkan atau dikuranginya  pertanian pangan dari penerima hak atas air, maka jurang pengangguran akan terbuka lebar. Tingginya tingkat pengangguran adalah masalah utama yang sedang dihadapi oleh negara-negara importir pangan (air virtual).


« Back to archive virtual water | | |
virtual water Linked
List Comment
Comment
Name :
Email :
Website :
Title Comment :
Comment :
Code :
Letter code above the input fields bellow
 
Minggu, 20 Maret 2011 13:51
Kemelut Sumberdaya Air; Menggugat Privatisasi Air di Indonesia

Kitab  ini adalah semacam lonceng bangun pagi (wake up call) untuk  mengingatkan...


Minggu, 20 Maret 2011 12:56
Air Sebagai Layanan Publik

Air Sebagai Layanan Publik mencoba mendeskripsikan kembali sejarah penyediaan layanan air...



© 2011 copyright Kruha.org
Best viewed Mozilla, Opera, Google Chrome
All Rights Reserved. Powered by oneTechno