Language:
Siaran Pers
Sabtu, 22 Maret 2014 11:13
Pernyataan Sikap Hari Air se Dunia 2014
Solidaritas Rakyat untuk Hak dan Kedaulatan Atas Air

Pernyataan Sikap

Hari Air Sedunia

Solidaritas Rakyat untuk Hak dan Kedaulatan Atas Air

 

What we do to water, we do to ourselves, and the ones we love.

(Popol Vuh, the ancient Guatemalan Book of the People)

 

Sepanjang ingatan manusia, air akan selalu diingat sebagai salah satu “hadiah” paling berharga dari alam yang “diberikan” kepada umat manusia serta seluruh makhluk hidup di planet bumi. Kutipan diatas mengingatkan bahwa pentingnya perlakuan yang layak terhadap air dan sumber daya air merupakan bagian dari perlakuan terhadap kehidupan itu sendiri. Manusia dan keturunannya di masa mendatang akan merasakan akibat dari yang mereka lakukan terhadap air dan sumber daya air di masa sekarang ini. Berbagai aliran agama dan kepercayaan di dunia juga mengajarkan bahwa air adalah anugrah dari Tuhan untuk seluruh kehidupan di muka bumi.

Sebagai salah satu unsur utama pembentuk kehidupan, air mutlak diperlukan oleh seluruh makhluk dalam setiap proses kehidupan yang dijalaninya. Hingga demikian vitalnya, air bahkan membentuk 70% tubuh manusia. Sejarah bahkan mencatat bahwa peradaban-peradaban besar dunia tumbuh dan berkembang di sekitar wilayah aliran sungai. Hubungan manusia dengan air dengan demikian tidak saja dalam konteks pemenuhan kebutuhan dasar hidupnya saja akan tetapi air sudah menjadi bagian integral manusia dalam membentuk kebudayaan dan peradabannya.

Begitu pentingnya air bagi umat manusia, membuat badan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) merasa perlu untuk menjadikan satu hari khusus sebagai peringatan dan perayaan terhadap air, yang kemudian hari disebut dengan Hari Air Sedunia. Konferensi Bumi yang digelar oleh PBB di Rio de Janeiro pada tahun 1992 menjadi awal dicetuskannya Hari Air Sedunia. Pada Konferensi tersebut salah satu hal penting yang mengemuka adalah pentingnya air bagi kehidupan serta kebutuhan melindungi sumber daya air serta pengelolaannya secara berkelanjutan. Pada sidang umum PBB ke-47 pada tanggal 22 Desember 1992, dikeluarkan Resolusi Nomor 147/1993 yang menetapkan peringatan Hari Air Sedunia jatuh pada tanggal 22 Maret, dan diperingati untuk pertama kalinya pada tahun 1993.

Pada setiap tahunnya, Hari Air Sedunia mengambil tema yang berbeda-beda sesuai dengan concern dunia pada saat tersebut. Tepat 21 tahun, pada tanggal 22 Maret 2014 Hari Air Sedunia mengambil tema Air dan Energi. Tema Air dan Energi dipilih sebagai diangkat karena pertimbangan saling keterkaitan dan ketergantungan antara air dan energi. Pada satu sisi air dibutuhkan dalam setiap level proses produksi untuk hampir semua bentuk energi. Pada sisi lain, energi dibutuhkan pada setiap tahapan pengelolaan air, dari mulai proses pengambilan dari sumber, pengolahan, hingga sampai pada tahap distribusi air itu sendiri.

Kehidupan modern dengan tingkat pertumbuhan populasi penduduk yang tinggi, model pembangunan serta aktivitas ekonomi yang ada, telah mengakibatkan adanya ketergantungan pada suplai energi yang besar. Peningkatan kebutuhan total energi dunia diestimasikan dari tahun 2003 hingga tahun 2030 mencapai angka 71 persen dari. Di Indonesia sendiri, konsumsi energi primer Indonesia, telah meningkat lebih dari 50 persen sejak tahun 2000 sampai tahun 2010.

Peningkatan kebutuhan atas energi yang besar mendorong usaha produksi dirasa perlu terus dikembangkan. Beragam usaha menggali sumber energi atau membangun instalasi untuk memproduksi energi kemudian terus menerus dicoba kembangkan. Pengembangan usaha mulai dari cara-cara konvensional hingga cara-cara non-konvensional juga terus diupayakan.

Persoalan yang kemudian muncul adalah, usaha menggali energi serta energi yang dihasilkan, seringkali tidak selaras dengan usaha konservasi lingkungan dan sumber daya alam yang ada. Berbagai kasus menunjukkan bahwa, berbagai kerusakan lingkungan dan sumber daya alam telah terjadi akibat produksi pemakaian energi yang tidak ramah lingkungan. Salah satu implikasi konsumsi dan pengolahan energi yang tidak ramah lingkungan diantaranya telah mengakibatkan adanya pemanasan global dan perubahan iklim. Ilmuwan iklim dari Stanford memperkirakan kondisi tersebut akan terus memburuk. Mereka memperkirakan, kemungkinan tingkat perubahan pada abad berikutnya setidaknya akan mencapai 10 kali lebih cepat daripada perubahan iklim dalam 65 juta tahun terakhir.

Salah satu dasar persoalan dari produksi dan konsumsi energi yang tidak ramah lingkungan adalah kerusakan pada sumber daya air yang ada. Batu bara misalnya, dalam banyak kasus telah menimbulkan akibat buruk terhadap tanah dan air di sekitar wilayah pertambangan. Kerusakan topologi tanah telah merusak bahkan menghancurkan aliran air. Selain itu limbah penambangan batu bara yang mudah larut dalam air akan menjadikan pencemaran sumber air. Jika limbah tersebut mengalir ke sungai, maka tanah yang terletak jauh dari areal penambangan, seperti tanah untuk pertanian yang menggunakan air dari sungai tersebut untuk irigasi juga mendapatkan dampak negatif dari limbah ini.

Selain sumber energi yang memang telah terbukti menimbulkan efek yang buruk bagi lingkungan, khususnya pada air, rakyat juga harus waspada terhadap metode penggalian atau produksi beberapa sumber energi yang dirasa ramah lingkungan. Pembangkit listrik tenaga air (Hydropower) dengan menggunakan bendungan skala besar (Big Dams), yang ramai dibicarakan dan hendak dikembangkan dalam skala besar di Indonesia terbukti menimbulkan kontroversi di berbagai tempat. Modifikasi aliran sungai dengan adanya bendungan-bendungan besar telah dan akan berdampak langsung pada kelestarian air dan komponen dasar dari kualitas air. Hal ini tentu berpengaruh pada kelangsungan hidup ikan-ikan dan kehidupan akuatik lain yang tinggal di aliran sungai. Akibat lanjutnya adalah penduduk sekitar sungai yang menjadikan ikan sebagai komponen penting dari jaring makanan menjadi terganggu penghidupannya. Selain itu bendungan-bendungan besar dalam banyak kasus merupakan bentuk dari perampasan air (water grabbing) dari satu komunitas untuk komunitas lain. Bendungan besar juga merupakan pengurasan air (watterlogging) besar-besaran yang dapat membawa dampak berkurangnya irigasi atau bahkan keringnya lahan pertanian disebagian wilayah. Proyek pembangunan bendungan-bendungan skala besar juga selalu diikuti dengan penggusuran warga sekitar bendungan, merampas lahan penghidupan mereka, mengakibatkan terjadinya banjir.

Di samping hydropower, metode pengembangan produksi gas alam, sebagai energi yang telah diklaim paling ramah lingkungan dibandingkan dengan energi fosil lain seperti minyak maupun batubara, juga patut diwaspadai. Hydraulic-fracturing atau biasa disebut dengan fracking sebagai cara untuk menambang gas non konvensional, telah ditentang di banyak negara. Bahkan warga berbagai negara bagian di Amerika Serikat, sebagai negara penghasil gas non konvesional (shale gas), terus menerus menyerukan penghentian produksi shale gas dengan metode fracking. Begitu pula warga di berbagai negara Eropa juga menggalang dukungan secara global untuk menghentikan aktivitas fracking.

Fracking dianggap berbahaya karena berpotensi menyebabkan polusi dan kelangkaan atas air bagi warga sekitar penambangan. Proses fracking memerlukan air dalam jumlah yang besar. Jutaan galon air diperlukan untuk dipompakan bersama material lain seperti pasir, dan berbagai campuran bahan kimia ke formasi shale rock di mana shale gas berada. Proses pemompaan dengan media air yang begitu besar ini tentu berpotensi mengakibatkan daerah sekitar penambangan akan kekurangan air. Selain itu, proses fracking menghasilkan sejumlah besar air limbah, yang mengandung bahan kimia terlarut dan kontaminan lain yang memerlukan perlakuan sebelum dibuang atau digunakan kembali. Hal ini dapat mengakibatkan pencemaran air permukaan maupun air tanah. Pencemaran air permukaan terjadi akibat adanya kontaminasi sumber mata air dan mampu membunuh ekosistem yang hidup di sana. Bahkan, apabila kontaminasi meresap hingga ke air tanah, maka air tanah akan ikut tercemar.

Kerusakan sumber daya air tersebut dengan demikian juga berpotensi melanggar pemenuhan hak rakyat atas air yang telah dijamin sebagai hak asasi manusia oleh PBB sejak tahun 2010 lalu. Hak atas air sebagai hak asasi manusia mensyaratkan pemenuhan kebutuhan rakyat atas air secara cukup, aman, dan terjangkau keteraksesannya oleh negara. Siapapun warga tidak dapat dilanggar haknya dan kebutuhannya atas air. Indonesia yang ikut mensetujui resolusi PBB tersebut juga berkewajiban melindungi rakyat dari potensi perusakan atas sumber daya air yang ada melalui aktivitas produksi energi.

Koalisi Rakyat untuk Hak Atas Air (KRuHA Indonesia), sebagai bagian dari gerakan yang fokus untuk mendorong pemenuhan hak rakyat atas air, dalam peringatan Hari Air Sedunia merasa perlu kembali mengingatkan semua kalangan, terutama negara, untuk memperhatikan dan melaksanakan kewajibannya. Usaha pemenuhan hak atas air hanya mungkin dilakukan jika ada usaha untuk memastikan setiap warga terlayani kebutuhannya atas air secara layak, sekaligus usaha untuk melindungi sumber-sumber daya air yang ada dari setiap aktivitas yang berpotensi mengancam sumber-sumber tersebut.

KRuHA juga merasa perlu mengingatkan bahwa sekian persoalan air harus diatasi dengan konsolidasi segenap elemen rakyat untuk mendorong tercapainya pemenuhan hak dan kedaulatan atas air. Solidaritas antar elemen dalam masyarakat mutlak diperlukan untuk menciptakan tata kelola air yang baik dan berkeadilan. Sehingga air tidak lagi diperlakukan sebagai bagian dari usaha mengeruk keuntungan saja, akan tetapi air harus menjadi sarana untuk menciptakan kehidupan yang lebih sejahtera.

 

 

 

Tertanda,

 

 

Muhammad Reza

Koordinator KRuHA

 

 

 

 


« Back to archive Siaran Pers | | |
Siaran Pers Linked
List Comment
Comment
Name :
Email :
Website :
Title Comment :
Comment :
Code :
Letter code above the input fields bellow
 
Minggu, 20 Maret 2011 13:51
Kemelut Sumberdaya Air; Menggugat Privatisasi Air di Indonesia

Kitab  ini adalah semacam lonceng bangun pagi (wake up call) untuk  mengingatkan...


Minggu, 20 Maret 2011 12:56
Air Sebagai Layanan Publik

Air Sebagai Layanan Publik mencoba mendeskripsikan kembali sejarah penyediaan layanan air...



© 2011 copyright Kruha.org
Best viewed Mozilla, Opera, Google Chrome
All Rights Reserved. Powered by oneTechno