Language:
Artikel
Selasa, 15 Maret 2011 18:42
Sulitnya Mendapatkan Air Bersih di Jakarta; Cerita Dari Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara

Bagi sebagian besar warga Jakarta, mengandalkan air perpipaan untuk kebutuhan sehari-hari bisa jadi merupakan kesalahan besar (dalam catatan BPS 2010, hanya 25% warga Jakarta yang mendapat akses layanan air perpipaan). Pasokan air yang tidak kontinyu, dan kualitas air yang buruk, menjadikan banyak warga tidak percaya terhadap air perpipaan. Sebagian warga yang mampu, banyak  menggunakan air tanah sebagai sumber kehidupan mereka sehari-hari, itupun dengan catatan air tanah yang ada masih cukup layak untuk dikonsumsi. Jikapun tidak, mereka akan mencari sumber alternatif lain termasuk air kemasan. Namun kondisi yang berbeda dihadapi oleh masyarakat kurang mampu yang kebanyakan juga tinggal di daerah kumuh. Muara Baru misalnya, sumur disana sangatlah terkontaminasi oleh limbah dan air laut, hingga warga yang bermukim di salah satu kawasan termiskin Jakarta Utara ini terpaksa mencari air ditempat lain. Ironisnya kelompok yang paling menderita dengan situasi ini adalah kelompok perempuan. Sebagian besar warga Muara baru hidup di pemukiman ilegal, kampung-kampung yang ditolak untuk dipasangi instalasi perpipaan oleh operator swasta.  Anehnya,  ada saja orang-orang kuat yang bisa mengatur sambungan ilegal, jangan tanya bagaimana caranya, seorang toke yang memiliki sambungan dari PALYJA bisa melayani hingga seratus rumah tangga dengan selang temporer.

Mbak Sinta (32 tahun), seorang ibu rumah tangga dan guru, bercerita bahwa untuk memenuhi kebutuhan air selama dua hari, warga bergantian memakai selang air yang digunakan untuk memenuhi tong-tong air. Setiap kali mengisi waktunya dibatasi hanya 20 menit. ”Kami harus membayar Rp.80.000,” kata Shinta, “ Padahal beberapa minggu yang lalu harganya masih RP.65.000 untuk 30  menit pemakaian, sekarang jadi Rp.80.000. Katanya karena harga dari PALYJA sudah naik”,lanjutnya.

Ada juga warga Muara Baru yang memiliki meter air pipa, sehingga seharusnya mereka bisa aman dalam mengakses air bersih. Namun air tersebut tidak pernah mengalir, dan warga tersebut harus menanggung biaya beban karena memiliki sambungan, tetapi juga harus membeli air di tempat lain untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.


« Back to archive Artikel | | |
Artikel Linked
List Comment
Comment
Name :
Email :
Website :
Title Comment :
Comment :
Code :
Letter code above the input fields bellow
 
Minggu, 20 Maret 2011 13:51
Kemelut Sumberdaya Air; Menggugat Privatisasi Air di Indonesia

Kitab  ini adalah semacam lonceng bangun pagi (wake up call) untuk  mengingatkan...


Minggu, 20 Maret 2011 12:56
Air Sebagai Layanan Publik

Air Sebagai Layanan Publik mencoba mendeskripsikan kembali sejarah penyediaan layanan air...



© 2011 copyright Kruha.org
Best viewed Mozilla, Opera, Google Chrome
All Rights Reserved. Powered by oneTechno