Language:
Kampanye
Jumat, 21 Oktober 2011 00:08
Dunia Tanpa Hak Atas Air? Dunia-nya Bank

Dapatkah Anda Bayangkan sebuah dunia dimana 1.5 juta balita menderita sakit dan mati setiap harinya akibat buruknya kualitas dan keterbatasan akses terhadap air dan sanitasi? Dapatkah anda bayangkan sebuah dunia dimana air dan sanitasi jatuh ketangan perusahaan-perusahaan besar?, dunia dimana air dan sanitasi bukan lagi merupakan Hak Asasi Manusia, sebuah dunia dimana air hanya bisa didapat jika anda punya duit? Dunia seperti itu bukanlah dunia di masa lalu atau di masa depan, akan tetapi dunia yang kita diami hari ini, dunia yang bahkan akan semakin memburuk akibat pertumbuhan populasi dan jurang antara orang kaya dan miskin yang kian melebar, sumber daya air yang kian langka, dan perusahaan-perusahaan raksasa yang mendominasi kontrol atas air dan menjualnya dengan harga premium.

Juni 2010, Sidang Umum PBB telah menetapkan bahwa Air adalah Hak Asasi Manusia. Ketetapan yang didukung 122 negara (termasuk Indonesia). 41 negara abstain, hampir semua Negara yang abstain adalah Negara-negara industry maju yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Inggris, Negara-negara yang berupaya keras untuk menggagalkan keluarnya keputusan tersebut. Latar belakang ke-41 negara yang abstain tersebut adalah demi meloloskan upaya-upaya Bank Dunia dalam menempatkan penguasaan sumber-sumber air di dunia kedalam control perusahaan – perusahaan internasional, dengan memasukkan air kedalam mekanisme pasar.

Seandainya benar bahwa privatisasi air akan berdampak pada pelestarian dan keterakses-am air yang lebih baik, untuk lebih banyak orang, dengan harga yang lebih murah, maka privatisasi adalah sebuah oasis bagi dunia yang haus ini. Akan tetapi, bertolak belakang dari janji manis privatisasi yang selama ini dipaksakan untuk kita yakini, praktek privatisasi air oleh perusahaan – perusahaan multinasional yang memonopoli sumber daya air justru semakin memperparah ‘ketidak-adilan’ air.
Coba bayangkan kenyataan bahwa hanya satu persen dari total air yang ada di bumi yang bisa dikonsumsi oleh manusia, dan penggunaan air telah meningkat menjadi enam kali lipat dalam kurun seratus tahun terakhir, maka akan merupakan potensi keuntungan yang berlimpah dimana pertumbuhan populasi meningkat pesat dan kelangkaan air ada dimana-mana (permintaan yang tinggi untuk suplai yang terbatas).

Perusahaan-perusahaan raksasa seperti; Coca Cola, Pepsi, Suez-Lyonnaise (PALYJA), Vivendi-Generale des eaux, Nestle, Danone, Monsanto telah lama mematangkan rencana untuk meraup keuntungan trilyunan dolar, dengan cara memastikan bahwa air di perlakukan sebagai komoditas yang bisa diperdagangkan di seantero dunia. Dalam rangka memuluskan kontrol atas sumber-sumber air, perusahaan-perusahaan ini menggunakan tangan Bank Dunia untuk memaksa pemerintah agar menyerahkan pengelolaan air ketangan swasta, dengan terlebih dahulu memastikan sector air disubsidi pembayar pajak, juga mendesakkan anggaran public untuk pembiayaan infrastruktur

Dibawah hegemoni label ‘ krisis air’, Bank Dunia aktif melobi berbagai lembaga Negara, perusahaan-perusahaan swasta dengan dalih ‘membantu’  penanganan krisis air dan sanitasi, banjir dan kekeringan. Mengaitkan air dan sanitasi dengan bencana kelaparan global, Bank Dunia menekankan bahwa lebih dari 2 juta kematian terjadi setiap tahunnya akibat wabah penyakit yang terkait air dan sanitasi. Air juga dikaitkan dengan pertanian, energy, lingkungan, industrialisasi dan perencanaan perkotaan. Sebenarnya, semua pendekatan ini adalah baik selama bermanfaat bagi banyak orang, bukan sekedar topeng bagi ajang cari untung perusahaan-perusahaan raksasa yang menguasai Hak Guna Air sebagai sebuah strategi akumulasi modal, dan menyebabkan kelangkaan akses bagi kalangan masyarakat miskin.


AIR KITA, HIDUP KITA
SEDANG DI PERDAGANGKAN!

Upaya pencarian untung ala kapitalisme telah beranjak ke arah komodifikasi hampir semua aspek kemanusiaan dan alam, termasuk pendidikan dan sistem kesehatan, jaminan sosial, transportasi dan sumber daya alam. Berlangsung dalam kurun tiga puluh tahun belakangan ini.

Seiring dengan akselerasi krisis, dimana semua sumber daya alam –yang melimpah di bumi Indonesia— masih dijadikan sebagai subjek rencana pembagian keuntungan diantara imperialis; bahkan air sendiri sebagai elemen paling dasar bagi keberlangsungan seluruh mahluk hidup termasuk manusia, telah dimasukkan kedalam daftar komoditas.

Selain perusahaan-perusahaan yang berhubungan dengan air dalam kemasan dan sistem irigasi, juga yang beroperasi disektor konstruksi, energi, pertambangan, makanan, kimia, metal, produk-produk sektor pertanian dan lainnya yang telah mulai menuntut klaim untuk hak atas sumber-sumber air dengan sokongan kuat dari kolaborator lokal mereka (perusahaan publik dan pemerintah daerah yang lebih berpihak pada investasi dan seringkali mengorbankan rakyat).

Di pedesaan keberpihakan yang sangat jelas kepada perusahaan-perusahaan air minum dan industri ekstraktif telah menuai banyak konflik yang selalu berujung pada proses dipinggirkannya masyarakat.

Lebih jauh lagi, jutaan petani kecil di Indonesia yang memiliki tanah terbatas dan bertani hanya demi mempertahankan hidup. Orang-orang yang bahkan tidak lagi mampu membeli bahan bakar untuk keperluan sehari-hari akibat derasnya gelombang liberalisasi pertanian akan dipaksa untuk melepas tanah-tanah mereka.

Konsekuensi alami dari gelombang migrasi dari pedesaan ke kota-kota besar adalah dampak yang tidak diharapkan dari praktek komersialisasi irigasi persawahan, akan segera kita saksikan begitu Peraturan Pemerintah yang mengatur Hak Alokasi Air dan Hak Guna Air diimplementasikan.

Promotor pasar bebas meng-klaim bahwa akan terbangun tanggung jawab dalam pengelolaan sumberdaya air, mengedepankan praktek-praktek yang berkesinambungan dalam distribusi air bersih dan mendorong pemerintahan untuk lebih memperkuat komitmen politik terhadap ‘Komersialisasi Air’. Juga cukup diketahui dengan baik oleh praktek perusahaan air minum dalam kemasan selalu mendorong agenda komersialisasi air menjadi agenda politik utama. Warga dunia telah berada dalam posisi vis a vis dengan perang akibat keserakahan para kapitalis yang selalu haus akan pasokan energi dan minyak. Dahaga yang akan segera menyerang sector air. Kami tidak akan berdiam diri dan membiarkan meraka mencuri air dan sumber air yang merupakan kekayaan milik bersama bagi kelangsungan kemanusiaan dan ekosistem.

SIAPA LAWAN HAK ATAS AIR?
•    Mereka yang menyatakan bahwa air -yang merupakan Hak Dasar Manusia dan milik semua orang- seharusnya menjadi barang komersil yang bisa di perjual-belikan, serta diperdagangkan di pasar saham;
•    Mereka yang berani memasang meteran di jaringan irigasi persawahan, sekolah-sekolah, rumah sakit;
•    Mereka yang menyebabkan polusi terhadap sumber-sumber air;
•    Mereka yang mengabaikan Hak Rakyat atas Kesehatan dengan mengatakan bahwa air yang tercemar oleh limbah industri sebagai air ‘bersih’;
•   Mereka yang tak merasa bersalah saat menyediakan air bersih yang tidak terbatas jumlahnya kepada perusahaan-perusahaan, dan disi lain bicara tentang keprihatinan akan “ Pemanasan Global”, krisis air, dan penghematan saat ber-urusan dengan air untuk rakyat; seperti petani kecil, kaum miskin kota dan para buruh kecil yang banting tulang demi kelangsungan hidupnya.
•    Pemerintah, termasuk lembaga-lembaga pengatur air, energi, konstruksi dan lembaga-lembaga keuangan yang mendorong  lahirnya krisis air, mengabaikan ekosistem dan keragaman budaya;
•    Semua kebijakan, keputusan dan praktek-praktek dari lembaga-lembaga, seperti World Water Forum (WFF), IMF, ADB, World Bank, WTO dll.

APA YANG MESTI DILAKUKAN?

  • Mencegah beralihnya air untuk rakyat ketangan segelintir perusahaan,
  • Melestarian dan Menguatkan praktek-praktek yang dilakukan masyarakat lokal di Indonesia dan dimanapun diseluruh dunia dan memantau langkah-langkah yang diambil dilevel politik,
  • Mencegah proses ‘disinformasi’ yang sering kali mengelabui publik,
  • Membangun landasan bagi rakyat banyak untuk memperjuangkan Hak atas Kehidupan dan Air.
  • Menolak praktek-praktek kotor yang akan merebut sumber air, utamanya yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan air raksasa seperti AQUA DONONE, PALYJA dll

« Back to archive Kampanye | | |
Kampanye Linked
List Comment
Comment
Name :
Email :
Website :
Title Comment :
Comment :
Code :
Letter code above the input fields bellow
 
Minggu, 20 Maret 2011 13:51
Kemelut Sumberdaya Air; Menggugat Privatisasi Air di Indonesia

Kitab  ini adalah semacam lonceng bangun pagi (wake up call) untuk  mengingatkan...


Minggu, 20 Maret 2011 12:56
Air Sebagai Layanan Publik

Air Sebagai Layanan Publik mencoba mendeskripsikan kembali sejarah penyediaan layanan air...



© 2011 copyright Kruha.org
Best viewed Mozilla, Opera, Google Chrome
All Rights Reserved. Powered by oneTechno