Language:
Kampanye
Kamis, 27 Juni 2013 19:14
sebuah pengantar
Tentang Fracking

Maraknya berbagai kasus terjadinya land and water grabbing oleh kekuatan bisnis, telah membawa dampak semakin terpinggirkannya rakyat dari akses atas sarana pemenuhan kebutuhan hidupnya. Korporasi-korporasi besar telah memanfaatkan tanah, air, bahkan udara, dengan mengubahnya menjadi menjadi sarana produksi industri demi keuntungan semata-mata, mencakupi industrialisasi dan liberalisasi pangan, hingga aktivitas-aktivitas ekstraksi sumberdaya mineral.

Sebagai bentuk kewaspadaan dari masifikasi terjadinya land and water grabbing, kegiatan penambangan dengan menggunakan metode fracking patut mendapatkan perhatian dari para pemerhati lingkungan dan akitvis, maupun khalayak umum, dan terutama bagi pemerintah Indonesia. Ya, pemerintah Indonesia sedang gencar untuk melaksanakan proyek menghadirkan sumber “energy baru”, melalui metode fracking.

Pemerintah sudah perlu dan sepantasnya menimbang ulang, apakah proyek tersebut akan tetap dilanjutkan dengan mengorbankan proses kehidupan masyarakat dan alam sekitar.

Untuk lebih jelas, mari kita lihat uraian berikut;


Apa itu fracking
Fracking adalah metode yang relative baru, atau setidaknya baru coba dikembangkan di Indonesia. Teknik ini dikembangkan untuk mengambil sumber-sumber energi yang masih tersisa dalam lubang bekas penggalian sumber energi. Ada yang menyebutnya mengorek lubang bekas penimbunan energi. Cara ini efektif untuk menaikkan laju produksi sumur-sumur minyak yang ada, atau sumber energi lain. Salah satunya adalah shale gas, atau biasa juga disebut sebagai gas alam yang terperangkap di dalam serpihan batuan.

Shale gas dan Oil Shale dibedakan dengan gas dan minyak yang selama ini ditambang dengan cara konvensional. Shale gas dan oil shale biasa disebut dengan gas alam dan minyak non konvensional. Mengapa disebut gas alam non konsional? Karena letak dari shale gas berbeda dengan gas alam konvensional. Jika gas alam konvensional yang kita tahu selama ini biasanya ditemukan di cekungan lapisan bumi pada kedalaman ±800m atau lebih. Maka shale gas terdapat di lapisan dari pori-pori dan celah bebatuan (shale formation) di kedalaman lebih dari 1500m. Begitu juga dengan oil shale. Oil shale merupakan minyak yang “terjebak” dalam lapisan pori-pori dan celah bebatuan (shale formation).

Fracking atau hydraulic fracturing atau hydrofracking atau teknologi hidrolika patahan, secara sederhana adalah proses ekstraksi gas bumi dengan cara meng-injeksi cairan bertekanan tinggi secara horisontal ke bawah atau ke lapisan batuan cebakan di mana gas dan atau minyak berada. Bahan untuk meng- injeksi yang digunakan adalah air, pasir atau butiran keramik khusus dan cairan kimia.

Jesse Jenkins menjelaskan operasi fracking ini adalah memompakan jutaan galon air, pasir, dan campuran bahan kimia, mulai dari garam dan asam sitrat hingga racun dan zat karsinogenik, termasuk benzena, formaldehida, dan timah. Semua material itu dipompakan dengan tekanan sampai 15.000 pon per inci persegi melalui sumur yang dibor horizontal ke formasi shale rock sedalam 10.000 meter di bawah permukaan tanah.

Ada berbagai daya tarik lain yang membuat pemerintah mengalihkan pandangannya kepada fracking guna mengambil shale gas atau pun shale oil. Pertama, cadangan shale gas Indonesia cukup besar. Studi dari para ahli geologi menyatakan, sebagaimana dilansir oleh migasreview.com, cadangan shale gas Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 574 trillion cubic feet (tcf). Potensi produksi ini jauh lebih besar jika dibandingkan dengan CBM (coal bed methane) yang sekitar 453,3 tcf, ataupun jika dibandingkan dengan gas konvensional yang jumlah cadangannya hanya sekitar 153 tcf. Bahkan IHS Global Insight memperkirakan, potensi shale gas Indonesia jauh lebih tinggi daripada perkiraan konservatif pemerintah, hampir 5.000 tcf, dengan sumber daya potensi plays bermutu tinggi sebesar 1.542 Tcf.

Indonesia diperkirakan juga mempunyai cadangan shale oil yang cukup besar. EIA (Energy Information Administration) menyatakan, seperti dilansir upstreamonline.com, total cadangan shale oil Indonesia adalah sebesar 8 miliar barel dari total cadangan dunia 345 miliar barel. Dengan demikian Indonesia menduduki peringkat ke 10, negara-negara dengan potensi cadangan shale oil terbesar di dunia.

Menurut John C.K. Daly, yang merupakan CEO dari US-Central Asia Biofuels Ltd., daya tarik lain dari uncoventional energy adalah letaknya yang relatif dangkal. Shale gas di Indonesia rata-rata berada pada kedalaman sekitar 1.000-1.300 meter di bawah permukaan tanah. Kondisi ini berbeda dengan cadangan gas konvensional lain di Indonesia yang berada pada kedalaman 6.500 kaki atau lebih, atau sekitar 1.950 meter.

Fracking sebagai Ancaman Keberlangsungan Air bagi Masyarakat
Fracking dianggap berpotensi menyebabkan polusi dan kelangkaan atas air bagi warga sekitar penambangan. Berbagai kasus dari Negara-negara dan telah diangkat ke berbagai media, termasuk film, memperlihatkan betapa berbahayanya penggunaan fracking, terhadap keberlangsungan air warga.

Seperti diketahui, proses fracking memerlukan air dalam jumlah yang besar. Jutaan gallon air diperlukan untuk dipompakan bersama material lain seperti pasir, dan campuran bahan kimia, mulai dari garam dan asam sitrat hingga racun dan zat karsinogenik, termasuk benzena, formaldehida, dan timah. Semua material itu dipompakan dengan tekanan sampai 15.000 pon per inci persegi melalui sumur yang dibor horizontal ke formasi shale rock mulai dari kedalaman 1500 meter hingga 10.000 meter di bawah permukaan tanah. Proses ini tentu berpotensi mengakibatkan daerah sekitar penambangan akan kekurangan air.

Berdasar dari pengalaman di Amerika, Dewan Perlindungan Air Tanah di sana menyatakan bahwa setiap penambangan menggunakan fracking membutuhkan 2 juta hingga 4 juta galon air. Bahkan Badan Perlindungan Lingkungan Hidup di Amerika memperkirakan, setiap tahun, antara 70 milliar hingga 140 milliar galon air telah digunakan untuk kegiatan tersebut. Hal ini sama dengan menghabiskan air bagi 40 hingga 80 kota dengan populasi sekitar 50,000.

Selain itu, cairan limbah fracking terdiri lebih dari 596 bahan kimia yang dikenali juga tidak dapat dikenali karena persenyawaan antara bahan kimia tersebut. Limbah tersebut dengan demikian memerlukan perlakuan khusus tertentu sebelum dibuang atau digunakan kembali. Sebab jika tidak ditangani terlebih dahulu, maka akan dapat mengakibatkan pencemaran air permukaan maupun air tanah. Pencemaran air permukaan terjadi akibat adanya kontaminasi sumber mata air dan mampu membunuh ekosistem yang hidup di sana. Sedangkan apabila kontaminasi meresap hingga ke air tanah, maka air tanah akan ikut tercemar.

************

saat ini KRuHA sedang menyiapkan sebuah jaringan kampanye waspada fracking berskala nasional, jika anda berminat silahkan menghubungi kami di kruha@kruha.org


« Back to archive Kampanye | | |
Kampanye Linked
List Comment
Comment
Name :
Email :
Website :
Title Comment :
Comment :
Code :
Letter code above the input fields bellow
 
Minggu, 20 Maret 2011 13:51
Kemelut Sumberdaya Air; Menggugat Privatisasi Air di Indonesia

Kitab  ini adalah semacam lonceng bangun pagi (wake up call) untuk  mengingatkan...


Minggu, 20 Maret 2011 12:56
Air Sebagai Layanan Publik

Air Sebagai Layanan Publik mencoba mendeskripsikan kembali sejarah penyediaan layanan air...



© 2011 copyright Kruha.org
Best viewed Mozilla, Opera, Google Chrome
All Rights Reserved. Powered by oneTechno