Language:
Berita
Kamis, 28 April 2011 11:48
DPRD Sorot Kinerja PDAM Bukit Tinggi

Bukittinggi, Padek—DPRD Bukittinggi menyorot kinerja Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM). Sebab, PDAM belum mampu mengatasi pencarian sumber air baku untuk dialiri dan memenuhi kebutuhan masyarakat 300 liter per detik. Apalagi, daerah ini minim sumber air baku. Seperti rencana permintaan sebagian sumber air baku di Sariak Kabupaten Agam, namun rencana tersebut sulit dan menemui kendala.Kemudian, sumber lainnya Subarang Tigo Jorong (Sutijo), namun terkendala lagi. Selanjutnya, penelitian di Ngarai Sianok dengan rencana membuat bendungan, kemudian mengalirkannya dengan tenaga listrik, namun biaya operasional tinggi. Menurut WAkil Ketua DPRD Bukittinggi, Darwin, sebenarnya Bukittinggi memiliki sumber air tanah yang mencukupi. Apalagi, keadaan Bukittinggi yang dikelilingi oleh gunung, tentunya memiliki banyak sumber air tanah.

“Kami melihat PDAM tidak berupaya menyelesaikan permasalahan sumber air baku ini. Dari informasi yang kita dapatkan di bawah tanah Kota Bukittinggi terdapat danau atau cekukan air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan warga,” jelas Darwin.

Menurut Darwin, kinerja PDAM perlu dipertanyakan, sebab sudah sekian lama tak kunjung mengatasi permasalahan sumber air baku untuk kebutuhan masyarakat. Sehingga muncul wacana dari DPRD untuk melakukan swastanisasi PDAM.

“Kita mulai tidak percaya dengan kinerja PDAM saat ini. Sehingga muncul wacana sebagian teman-teman di DPRD untuk menjadikan perusahaan daerah ini menjadi perusahaan swasta yang akan dikelola oleh pihak ketiga,” kata Darwin.

Direktur Umum PDAM Bukittinggi, Atrizal membantah jika tidak ada upaya yang dilakukan PDAM dalam memenuhi sumber air baku. Hal itu disebabkan PDAM belum menemukan sumber air baku yang bisa dialirkan ke Bukittinggi untuk memenuhi kebutuhan kota.
“Kita bersama dengan pemko telah melakukan upaya pencarian sumber air baku hingga ke sejumlah daerah dan luar Kota Bukittinggi. Namun hal itu belum membuahkan hasil secara maksimal. Karena kendala yang dihadapi cukup berat, kesediaan masyarakat dan biaya yang tinggi kendala utama dihadapi,” ungkap Atrizal.

Atrizal mengatakan sumber air tanah yang berada di bawah tanah Kota Bukittinggi tersebut hanya berupa cekukan-cekukan kecil yang tidak akan mampu memenuhi kebutuhan Bukittinggi. Jika tetap dilakukan pengeboran di kawasan tersebut dan dialirkan airnya ke Bukittinggi, akan menyebabkan pemko harus menutupi biaya produksi hingga Rp12 juta setiap bulannya,” jelasnya.

Saat ini, sebut Atrizal, PDAM dan pemko bersama sejumlah peneliti terus melakukan pencairan sumber air. Akhir-akhir ini menurut Atrizal dilakukan pencarian sumber air ke Malalak.

“Kita coba untuk mencari sumber air lainnya saat ini ke sejumlah daerah di Kabupaten Agam. Kita coba menyusuri hingga ke Malalak. Kita berharap masyarakat untuk juga berpartisipasi secara aktif untuk menemukan sumber air,” kata Atrizal.

Menanggapi adanya wacana swastanisasi dari DPRD, Atrizal tidak terlalu menaggapinya. Menurut Atrizal jika akan dilakukan swastanisasi tentunya tergantung Pemko Bukittinggi. “Saya hanya ditempatkan di sini, jika akan dilakukan swastanisasi tentunya kewenangan Pemko Bukittinggi,” kata Atrizal.(fd)


« Back to archive Berita | | |
Berita Linked
List Comment
Comment
Name :
Email :
Website :
Title Comment :
Comment :
Code :
Letter code above the input fields bellow
 
Minggu, 20 Maret 2011 13:51
Kemelut Sumberdaya Air; Menggugat Privatisasi Air di Indonesia

Kitab  ini adalah semacam lonceng bangun pagi (wake up call) untuk  mengingatkan...


Minggu, 20 Maret 2011 12:56
Air Sebagai Layanan Publik

Air Sebagai Layanan Publik mencoba mendeskripsikan kembali sejarah penyediaan layanan air...



© 2011 copyright Kruha.org
Best viewed Mozilla, Opera, Google Chrome
All Rights Reserved. Powered by oneTechno