Language:
Berita
Senin, 06 Juni 2011 12:18
PAM Rugi Miliaran Rupiah Sejak Kerjasama dengan 2 Operator Air

Jakarta - PAM Jaya mengaku merugi sejak menjalin kontrak dengan dua operator air swasta yaitu PT Palyja dan PT Aetra. Menurut Direktur PAM Jaya, Mauritz Napitupulu, sejak bergabung 13 tahun lalu sampai 2010 lalu, utang PAM Jaya bertambah menjadi Rp 580 miliar.

"Sampai tahun 2010 ini, utang (imbalan air) kami sebesar sebesar Rp 580 miliar kepada kedua operator itu," ujar Mauritz saat dihubungi di Jakarta, Senin (6/6/2011).

Selain masalah utang yang belum terbayar, PAM Jaya juga menyayangkan tindakan kedua operator yang selalu menuntut kenaikan tarif air. Sayangnya, kebijakan tersebut tidak diikuti dengan penyediaan air bersih tidak sanggup memenuhi kebutuhan warga Jakarta.

Padahal dalam kontrak konsesi antara PAM Jaya dan kedua operator telah sepakat untuk meningkatkan produksi air bersih tanpa tergantung dengan ketersediaan air baku.

"Namun pada kenyataannya keduanya tidak mampu melakukan peningkatan pelayanan sehubungan dengan produksi dari air sungai di Jakarta menjadi air baku," keluh Mauritz.

Terkait desakan dari Koalisi Masyarakat Menolak Swastanisasi Air Jakarta (KMMSAJ) yang menyarankan Pemprov DKI agar memutuskan kontrak dengan kedua operator, Mauritz tidak mau menanggapinya secara berlebihan. Hanya saja, dia menilai sikap itu tidak menutup kemungkinan karena warga merasa minimnya pelayanan yang diberikan dua operator tersebut.

"Itu haknya mereka untuk meminta pelayanan yang lebih baik. Mungkin pelayanan yang selama ini mereka rasakan masih kurang, bahkan cenderung buruk," ujar Mauritz.

Koalisi Masyarakat Menolak Swastanisasi Air Jakarta mendesak kepada Pemprov DKI segera memutuskan kontrak dengan kedua operator swasta air bersih yang ada di Jakarta yaitu Palyja dan Aetra karena dianggap tidak memberikan service yang memuaskan pada pelanggannya. Pemutusan itu harus segera dilakukan Pemprov mengingat dua operator swasta ini diduga hanya mendatangkan kerugian bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, khususnya Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jaya.

"Sudah cukup banyak studi yang menunjukkan kontrak konsesi dengan dua operator swasta tersebut hanya mendatangkan keuntungan bagi swasta, tetapi merugikan Jakarta," ujar Koordinator KMMSAJ, kepada wartawan di Gedung Balaikota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (6/6/2011).

Berdasarkan data yang dimiliki KMMSAJ, kontrak kerja sama antara PDAM Jaya dengan Palyja dan Aetra telah genap berusia 13 tahun pada tanggal 6 Juni kemarin.

"Tidak ada satupun target teknis yang dimandatkan kontrak dapat dipenuhi Palyja dan Aetra. Saat ini tarif air di Jakarta sekitar Rp 7.000 per meter kubik dengan kualitas air sangat buruk, sedangkan di Singapura yang dengan harga sekitar Rp 5.000 per meter kubik dengan kualitas air yang dapat langsung diminum," beber Hamong.

Saat ini kontrak kedua perusahaan swasta itu memang masih berlangsung hingga 2022. Namun, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo diminta untuk tidak menunggu hingga kontrak dan segera mengambil tindakan tegas.

(lia/dnl) http://www.detikfinance.com/read/2011/06/06/181303/1654330/4/pam-rugi-miliaran-rupiah-sejak-kerjasama-dengan-2-operator-air


« Back to archive Berita | | |
Berita Linked
List Comment
Comment
Name :
Email :
Website :
Title Comment :
Comment :
Code :
Letter code above the input fields bellow
 
Minggu, 20 Maret 2011 13:51
Kemelut Sumberdaya Air; Menggugat Privatisasi Air di Indonesia

Kitab  ini adalah semacam lonceng bangun pagi (wake up call) untuk  mengingatkan...


Minggu, 20 Maret 2011 12:56
Air Sebagai Layanan Publik

Air Sebagai Layanan Publik mencoba mendeskripsikan kembali sejarah penyediaan layanan air...



© 2011 copyright Kruha.org
Best viewed Mozilla, Opera, Google Chrome
All Rights Reserved. Powered by oneTechno