Language:
Berita
Selasa, 14 Juni 2011 13:48
Jangan Mengira Hanya Air Keran yang Tak Layak Konsumsi

Menurut riset baru, air yang dikemas dalam botol kandungan bakterinya lebih banyak dibandingkan air keran. Bahkan temuan beberapa merek, tercatat 100 kali mengandung bakteri di atas batas toleransi.
Sebuah tim ilmuwan menemukan bahwa 70 persen air kemasan dengan merek populer yang tersedia di pasaran memiliki kadar bakteri tinggi. Para peneliti dari Ccrest laborattories, Kanada, menemukan bahwa air keran kandungan bakterinya lebih sedikit dibandingkan air kemasan.

Pakar mikrobiologi, Dr. Sonish Azam, dari Ccrest Laboratories, mengatakan air dalam kemasan tidak layak sesuai dengan tingkat kemurniannya.

Ia mengatakan, "Jumlah bakteri heterotrofik pada air kemasan ditemukan dalam bilangan menjijikkan seratus kali lebih besar dari batas yang diijinkan."

Seperti dilansir telegraph, Dr. Azam mengatakan, kontrol yang lebih ketat semestinya diberlakukan pada semua perusahaan air kemasan.

"Air dalam kemasan bukan harus bebas mikroorganisme namun tingkat kandungannya dari hasil observasi penelitian ini sangat mengkhawatirkan," ujarnya.

Dr. Azam mengatakan tidak perlu minum air kemasan apabila air keran memiliki kualitas yang baik.

"Tidak mengherankan, konsumen beranggapan bahwa karena air kemasan memiliki label harga sehingga dianggap lebih murni dan lebih aman dibandingkan air keran," imbuhnya.

Dr. Azam mengatakan bahwa bakteri dalam air kemasan tersebut memang tidak menyebabkan penyakit.

"Namun tingginya kandungan bakteri dalam air kemasan dapat mengakibatkan resiko bagi mereka yang rentan penyakit seperti ibu hamil, bayi, pasien terkait kekebalan tubuh dan para manula," ujarnya.

Pakar Gizi, Dr. Chris Fenn mengatakan tidak perlu minum air kemasan karena air keran di Inggris sudah memiliki kwalitas yang sangat baik. "Kami beruntung berada di negeri ini karena memiliki kwalitas air keran yang baik, terkait ditemukannya banyak bakteri dalam air kemasan," ujarnya.

"Dan diperlukannya biaya lingkungan sangat besar untuk semua plastik yang digunakan untuk membuat kemasan."

Dr. Fenn mengatakan orang semestinya lebih banyak minum air keran. "Akan tetapi apabila anda kehausan, kemungkinan anda akan keluar, bukan minum air keran namun membeli air kemasan," katanya.

"Dua liter sehari merupakan hal yang umum akan tetapi sangat bervariasi bagi setiap orang."

"Ada sebagian orang yang usianya sama, berat badannya sama dan melakukan aktivitas yang sama namun memerlukan jumlah hidrasi air berbeda."

"Satu orang minum satu liter air sudah merasa lega, sedangkan tiga orang lainnya masih memerlukan tiga liter." 

Dikutip dari www.erabaru.net (Batam), Jumat, 11 Juni 2011

Keterangan Redaksi KRuHA: Batam merupakan propinsi kedua setelah DKI Jakarta yang paling banyak mengalami privatisasi air di Indonesia. Kasus air kemasan mengandung bakteri juga pernah dilaporkan YLKI pada Oktober 2010


« Back to archive Berita | | |
Berita Linked
List Comment
Comment
Name :
Email :
Website :
Title Comment :
Comment :
Code :
Letter code above the input fields bellow
 
Minggu, 20 Maret 2011 13:51
Kemelut Sumberdaya Air; Menggugat Privatisasi Air di Indonesia

Kitab  ini adalah semacam lonceng bangun pagi (wake up call) untuk  mengingatkan...


Minggu, 20 Maret 2011 12:56
Air Sebagai Layanan Publik

Air Sebagai Layanan Publik mencoba mendeskripsikan kembali sejarah penyediaan layanan air...



© 2011 copyright Kruha.org
Best viewed Mozilla, Opera, Google Chrome
All Rights Reserved. Powered by oneTechno